Abang Talk : Tahun Baru

Tahun Baru, event tahunan seluruh dunia yang memperingati pergantian tahun. Dimana, tanggal tersebut ditetapkan sebagai hari libur internasional. Tetapi, apa benar pada tanggal tersebut semua pekerjaan akan libur?

Mari melihat ke jalanan. Banyak polisi yang merayakan tahun baru dengan menjaga masyarakat. Dengan gagah berani bertugas, walau ada rindu untuk merayakan libur dengan keluarga. Petugas kebersihan telah bersiap, merayakan tahun baru dengan bekerja membersihkan sisa-sisa kemeriahan malam tahun baru. Pemadam kebakaran merayakan tahun baru di kantornya, bersama – sama berjaga jika ada yang membutuhkan mereka.

Mari melihat mereka, yang hanya bisa melihat kemeriahan tahun baru dari jendela kendaraan, sambil tetap berkonsentrasi mengendarai kendaraan tersebut. Pilot yang berharap dapat melihat kemeriahan dari atas pesawat ketika melintasi kota-kota besar. Masinis yang menjalankan keretanya dengan hati-hati ketika memasuki kota-kota yang sedang merayakan tahun baru, berharap dapat merasakan juga euforianya. Supir bus yang berharap di kota berikutnya tidak merasakan macet jalanan dari masyarakat yang sedang merayakan tahun baru. Dan kapten kapal, yang hanya merayakan tahun baru diatas kapal dengan ‘keluarga kecilnya’ dan para penumpang yang berharap sampai di tujuan dengan selamat.

Mari melihat ke sekitar kita. Mereka yang sedang on duty demi pekerjaan mereka. Para pekerja media yang tetap bertugas demi dapat memberikan informasi kepada masyarakat dimanapun mereka berada. Para penghibur yang sedang bekerja dengan ceria, agar acara tahun baru tetap meriah. Petugas parkir yang hanya melihat acara tahun baru dari kejauhan sembari mengawasi keadaan sekitar bersama petugas keamanan. Perawat dan dokter yang selalu siaga menunggui para pasien, agar mereka dapat merasakan hidup di tahun depan.

Masih banyak orang yang tidak bisa merayakan tahun baru seperti kebanyakan orang merayakan tahun baru. Maka, sudah seharusnya setiap orang bersyukur dengan pergantian tahun ini, sembari berharap akan tahun depan yang lebih baik.

Selamat Tahun Baru 2019.

Abang Review: Aquaman (2018)

Film tentang kemunculan superhero kebanyakan adalah tentang bagaimana seorang superhero menemukan jati dirinya, dengan latar belakang tanpa orang tua. Sebut saja batman yang orang tuanya mati ditembak penjahat di depan mata Bruce Wayne, Superman yang orang tuanya mati di planet krypton yang meledak tepat setelah pesawat yang membawa kal-el diterbangkan, dan lain sebagainya. Tapi bagaimana dengan Aquaman? Ini lah salah satu film yang menceritakan kemunculan superhero dengan latar belakang yang menarik.

Arthur Curry adalah superhero lokal di kotanya yang berada di tepi laut. Merupakan anak dari seorang manusia dan Ratu Atlantis, membuat dirinya dapat menolong siapa saja di lautan. Tetapi, terjadi kekacauan di kerajaan Atlantis membuat yang mengharuskan Arthur kembali ke tempat kelahiran ibunya.

 

Pertama-tama gue pengen standing applause untuk sound engineer yang membuat film ini begitu menggelegar. Baru pertama kali dalam sejarah menonton gue yang memiliki sound yang dapat menggetarkan layar dan kursi penonton tanpa harus menonton dalam versi 4DX. Kedua gue akan memberi selamat kepada penulis skenario dalam memasukkan sedikit sejarah dalam filmnya. Akting dari Jason Momoa (Arthur Curry) dan Amber Heard (Mera) juga sangat baik. Terkadang terlihat adegan konyol Arthur Curry yang tersampaikan dengan baik. Juga adegan Mera yang mendampingi kekonyolan dari Arthur Curry yang jelas sangat baik diperankan. Juga terdapat plot twist menjelang akhir film. Sayangnya, ada beberapa adegan yang seperti tidak ada, yang membuat penonton sedikit kebingungan dalam menonton.

 

Overall, film ini merupakan salah satu film superhero yang direkomendasikan. Tanpa mengikuti Justice League pun, film ini masih dapat diikuti. Mungkin, karena film ini masih merupakan film ke-4 dari DC Movie universe dan juga film pertama dari Aquaman. Tapi, jangan bawa anak kecil untuk nonton film ini, karena selain banyak adegan kekerasan, film ini juga terlalu berat dari segi cerita untuk anak kecil.

 

Abang Talk : Menjadi Egois

Do whatever you want to do and be responsible for it

Itu merupakan salah satu prinsip saya saat ini. Menjadi egois tetapi tetap bertanggung jawab. Itu lah yang saya lakukan akhir-akhir ini. Menjadi egois bukan berarti kemudian melakukan semua yang kita sukai, tetapi harus juga berfikir dampak positif dan negatifnya.

Kenapa demikian? Setiap manusia terlahir dengan ego yang tinggi. Lalu seiring beranjak dewasa kita mulai dikekang dengan satu dan lain hal, seperti aturan, omongan orang, lingkungan, adat istiadat, dan berbagai lainnya. Tetapi, setelah beranjak dewasa, kita mulai banyak menemukan masalah-masalah, yang penyelesaiannya sangat mudah tetapi dibuat sulit. Sehingga akhirnya, kita hanya melakukan yang sesuai dengan koridornya. Koridor siapa? Koridor masyarakat dalam bentuk aturan, omongan orang, lingkungan, adat istiadat, dan berbagai lainnya.

Padahal, kita bisa menyelesaikannya jika saja koridor tersebut tidak ada. being outlaw, ga usah denger orang lain, melawan arus lingkungan, atau menerobos adat istiadat. Tetapi, dalam melakukan hal tersebut, kita tetap harus bertanggung jawab, bukan melempar tanggung jawab. Karena setiap perbuatan kita, pasti ada konsekuensinya, dan itu tidak boleh kita lupakan.

Maka dari itu, setiap melakukan perbuatan egois, harus juga disertai tanggung jawab. Jangan hanya karena ingin melakukannya, tapi tidak mau menanggung akibatnya. Saya pribadi akan dan sudah melakukan perbuatan egois tersebut, dan disini lah saya, menjalani semua konsekuensi dari setiap perbuatan saya. Tetapi, saya bahagia melakukan hal tersebut dan saya tidak menyesal.

 

Abang Review : The Hollars

Keluarga. Satu kata berjuta makna. Satu kata yang mampu menyatukan atau memisahkan. Dan satu kata yang mampu membuat tidak mungkin menjadi mungkin, atau sebaliknya. Film dengan tema keluarga sudah sangat banyak. Salah satunya film besutan John Krasinski berjudul The Hollars.

the hollarsJohn Hollar, seorang kartunis, menerima kabar bahwa ibunya menderita tumor di kepala dan harus segera menjalani operasi. John yang pulang ke kota asalnya mengetahui bahwa setiap anggota keluarganya memiliki masalah, termasuk dirinya.

Seperti yang dijelaskan diatas, film dengan tema keluarga telah banyak dibuat. Jika tidak di eksekusi dengan baik, film tema keluarga akan menjadi gagal. Untungnya, The Hollars merupakan salah satu film yang berhasil di eksekusi dengan baik. Setiap pemeran memainkan perannya dengan sangat baik. Ditambah, konflik yang dihadirkan merupakan konflik sederhana yang bahkan mungkin dialami oleh para penontonnya. Konflik pun tidak saling tumpang tindih, sehingga masuk mudah untuk diikuti.

Sayangnya, Pace film ini terbilang lamban dan mudah membuat mengantuk. Durasi film ini juga cukup singkat untuk film dengan pace lambat. Hal ini menjadi kelemahan yang cukup fatal menurut gue.

Film ini layak untuk di tonton untuk mengisi weekends. Tetapi, walaupun konfliknya sederhana, tetapi merupakan konflik para orang dewasa, sehingga film ini sebaiknya hanya ditonton oleh remaja dan dewasa.

Nilai : 7/10

Abang Unboxing: Divoom Iris 02 2.0

Musik adalah salah satu yang membuat hidup kita berwarna. Mungkin tanpa musik, hidup akan terasa flat. Dan setiap kali mendengar musik dari device yang kita miliki tentu butuh sebuah speaker. Karena itu, akhirnya gue menjatuhkan pilihan speaker gue ke Iris-02 Divoom 2.0. salah satu speaker laptop yang gue temui di sebuah toko.

UNBOXING

DSCN0494
Box Divoom Iris 02

Melihat kemasannya, gue udah mengira seberapa besar ukurannya. Boxnya simple, hanya terdapat gambar speaker dan penjelasannya saja.

DSCN0497DSCN0498

Ketika dibuka, akan muncul box berwarna coklat. Box coklatnya bisa dibilang cukup tebal untuk melindungi dari guncangan ringan. Setelah box coklat dibuka, terlihat 2 buah speaker, kartu garansi, dan sebuah manual book.

DSCN0499

Tidak ada perangkat tambahan apapun dalam box. Speakernya sendiri terhubung dengan kabel, akan sedikit ribet kalo laptop sering dipindah atau sering dibawa bersama speakernya.

DSCN0503

KESIMPULAN

Jika membutuhkan speaker yang cukup compact untuk ditaruh di meja, speaker ini bisa menjadi pilihan, dengan ukurannya yang bisa dibilang mungil tidak akan membuat kecewa. Sedangkan, jika lebih sering bepergian atau senang mendengarkan musik diluar, silakan cari versi wirelessnya. Untuk speaker dengan harga Rp. 175.000 bisa dibilang ini menjadi salah satu rekomendasi.

Abang Review : Merry Riana: Mimpi Sejuta Dolar (2014)

Mimpi Sejuta Dolar

Mimpi tidak saja bisa membuat seseorang berusaha keras, tetapi juga harus didapat dengan jatuh bangun dan terkadang lahir dari keterpurukan. Sebuah mimpi juga bisa berasal dari kehidupan yang tidak diinginkan seseorang. Perjuangan untuk mencapai sebuah mimpi bisa sangat tidak mulus. Berdasarkan sebuah kisah nyata kehidupan Merry Riana inilah, film ini dibuat. Gue sangat berterimakasih karena gue bisa menonton premiere film ini semalem.

Merry Riana (Chelsea Islan) yang baru lulus SMA terpaksa mengungsi ke Singapura karena kerusuhan sosial. Perjalanan menuju bandara juga tidak aman. Mereka dihadang kawanan penjarah dan terpaksa melepas harta benda demi keselamatan. Di bandara, orangtua Merry (Ferry Salim & Cyntia Lamusu) menjual apa yang menempel di badan dan hanya mampu membeli satu tiket. Merry tiba di Singapura sendirian. Dengan bekal uang yang untuk beli makan lima kali saja akan habis, ia harus mencari tempat tinggal dan bertahan hidup. Dari media sosial ia temukan sahabatnya Irene (Kimberly Ryder) yang hendak kuliah di sana juga. Dengan bantuan Irene, Merry mencari celah di antara aturan Singapura yang begitu ketat. Bukan hanya diperbolehkan tinggal di asrama, ia lolos ujian seleksi dan diterima di salah satu perguruan tinggi terbaik di sana. Tapi, itu semua baru bisa didapat bila Merry membayar $40,000. Satu-satunya harapan adalah mengambil pinjaman mahasiswa, yang hanya bisa didapat jika Merry memiliki seorang penjamin. Karena tidak ada kerabat, dan Irene tidak bisa menjadi penjamin, Merry harus mencari seorang mahasiswa senior yang mau jadi penjamin. Merry bertemu Alva (Dion Wiyoko). Ternyata Alva cuek dan sangat perhitungan. Ia memberi segala macam syarat sebelum akhirnya mau menolong Merry, termasuk menyuruhnya mencari kerja sambilan. Merry sadar bahwa ia harus kuliah dengan betul, tapi sadar juga bahwa ia harus sukses secepatnya. Maka ia berpikir keras untuk melipatgandakan uang yang ia miliki, mulai dari bekerja menyebar brosur online business, sampai main saham beresiko tinggi. Kondisi ekonominya pun naik turun. Kemelut cinta pun terjadi ketika Alva menyatakan perasaan padanya, sementara Merry sadar betul Irene tengah jatuh cinta pada Alva.

Si Cantik Chelsea Islan

Dari tema cerita film ini cukup bagus walaupun terkesan umum. Perjuangan seseorang untuk mencapai mimpinya bisa dilihat di beberapa film Indonesia lainnya. Kekuatan film ini ternyata tidak hanya dari cerita saja, tetapi juga dari tokoh-tokoh yang ada. Acting Chelsea Iskan di film ini sangat apik. Berbagai ekspresi dapat dimainkan dengan sangat bagus. Bahkan, gue ga percaya yang gue lihat ini adalah sebuah film, Karena gue seakan menonton langsung sebuah perjuangan. Selain itu, acting Dion Wiyoko pun sangat alami. Bahkan ketika Dion harus berperan sangat dingin, gue merasakan juga sikapnya seakan itu ditujukan untuk gue.

Konflik yang ada di film ini tertata apik. Konflik dan penyelesaian masalah seakan tidak memberikan jeda untuk tidak menyimak film tersebut. Setiap masalah yang datang dan pergi seakan memang terjadi di kehidupan nyata. Seperti yang gue bilang tadi, menonton film ini tidak terasa seperti menonton film ini, tetapi seperti menonton kehidupan secara langsung.

Secara keseluruhan film ini sangat menginspirasi, terutama untuk yang sedang mengejar mimpi. Film ini sangat cocok ditonton untuk remaja sampai dewasa. Gue kurang menyarankan untuk menonton bersama anak kecil karena konflik yang terjadi cukup berat untuk ditelaah. Film ini sangat cocok untuk yang sedang merasa tidak dapat mencapai mimpinya.

Awal gue nonton film ini, gue udah sangat low expectation. Apalagi dengan reputasi film-film Indonesia yang bisa dibilang rendah saat ini. Tetapi setelah gue menonton film ini, gue percaya bahwa kebangkitan film Indonesia tinggal menunggu waktu saja.

Courtesy to: http://www.lovelytoday.com/entertainment/2014/07/23/22335/sinopsis-film-merry-riana-perjuangan-seorang-wanita-menghidupi-dirinya and http://www.indonesianfilmcenter.com/pages/filminfo/movie.php?uid=87a797194925&title=Merry%20Riana:%20Mi..

Abang Review : The Little Prince (2015)


Tidak ada kehidupan yang sempurna, bahkan ketika kita mengaturnya sesempurna mungkin. Terkadang ketidaksempurnaan lah yang dapat membuat kehidupan lebih berwarna. Berkisah tentang little girl dan mother yang berambisi untuk bersekolah di whert academie, sebuah sekolah unggulan yang diminati setiap orang. Pada test pertamanya, little girl gagal untuk masuk, sehingga mother menyusun lifetime plan untuk little girl sampai dengan hitungan menit. Tetangga mereka ternyata adalah seorang aviator yang memiliki banyak pengalaman, terutama pengalaman dengan little prince. Disinilah akhirnya little girl dihadapkan sebuah pilihan, antara hidup yang sempurna atau hidup dengan menyenangkan.

 Overall film ini bagus. Scoringnya keren, membantu membangun cerita yang ada. Ditambah ceritanya sendiri sudah bagus, sehingga semakin membangun emosi penonton. Selain itu, animasi film ini tidak menggunakan 1 jenis tetapi beberapa, menjadikan ini animasi yang keren, Terutama perpindahan dari cutout animation ke puppet animation. Selain itu pengisi suaranya benar-benar menggunakan emosinya. Sayangnya, pace dari film ini datar, sehingga film ini terkadang cukup membosankan di beberapa scene.

 Jika dinilai, film ini bisa mendapatkan poin 8.5 dari 10. Film ini cocok untuk ditonton oleh pasangan muda atau orang tua baru dan aman untuk ditonton bersama anak.

PS: scene tentang orang serius dan tentang sesuatu yang fun pasti berbeda dari warna. Perhatikan deh.

Abang Talk : Generasi Digital

Generasi ini bukan generasi instan, tetapi generasi digital. Sedari dulu, semua orang ingin serba cepat, serba instan. Tetapi, secepat-cepatnya generasi dahulu, masih tetap berproses lama. Contohnya, persugihan. Generasi dahulu harus mencari dulu dukunnya, cari sesajennya, cari jalan menuju kuburan atau guanya, baru setelah itu selesai. Generasi sekarang cari dukun tinggal buka google. Cari sesajen tinggal buka marketplace online. Cari jalan ke kuburan atau guanya tinggal buka maps. Simple dan lebih cepat.

Generasi digital bukan generasi instan. Mereka punya cara, mereka punya kemampuan, dan mereka tahu celah. Mau tenar tinggal masukin video ke youtube, bikin tweet yang quotable, jadi ustadz kekinian, atau pacaran sama selebtwit/selebgram/youtuber. Generasi dahulu harus mencari sendiri bagaimana caranya tenar. Ikut jadi cover boy/cover girl, Casting film, bikin buku, atau membunuh. Semudah dan sesulit itu.

Generasi digital bukan generasi instan. Mereka punya tujuan dalam hidup mereka, dan itu ditunjang dengan kondisi dan keadaan yang ada. Ada yang bertujuan jadi entrepreneur, Vlogger, Influencer, atau jadi digital artist. Tetapi semua bertujuan untuk kehidupan mereka, punya uang, status social, diakui, dan menyamankan diri. Generasi dahulu tujuannya lebih sederhana, untuk kehidupan mereka dan menyamankan diri.

Generasi digital bukan generasi instan, karena mereka pun berjuang seperti generasi dahulu. Hanya saja cara dan tujuannya yang berbeda.